Showing posts with label manhaj. Show all posts
Showing posts with label manhaj. Show all posts

Friday, May 30, 2014

Wahai Salafi, Inginkah Engkau Masuk Kubangan Politik ???!!!


Oleh
Ustadz Abu Nafisah Abdurrahman Thayib
(DOSEN PENGAJAR TETAP STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA)

بسم الله الرحمن الرحيم
Pada hari-hari seperti ini kita mendapati pembahasan seputar pemilu 2014 sebagai pembahasan terhangat diberbagai media massa dan media elektronik. Berbagai elemen masyarakat banyak disibukkan dengannya, mulai dari pakar politik hingga orang awam. Pembahasan tersebut seolah menjadi menu dan bahan obrolan yang sangat amat mengasyikkan hingga menyita banyak waktu, tenaga, pikiran bahkan harta mereka. Tapi ini tidak asing bagi mereka dan di dalam dunia mereka.
Namun yang sangat disayangkan, penyakit di atas menular pula ke dalam diri orang-orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai pengikut Dakwah Salafiyah yang murni dari kotoran politik ini atau mungkin ada juga yang sebagai penyusup ke dalamnya tanpa disadari. Kita lihat sebagian mereka berdebat kusir tentangnya di majlis-majlis obrolan, FB,WA dan internet. Sebagian lagi bahkan melakukan apa yang diistilahkan dengan kampanye hitam untuk mendukung salah satu capres dan menjatuhkan yang lainnya[1]. Setiap hari menyeru umat untuk masuk kandang politik. Sebagian lagi bahkan menulis “Mungkinkah seorang salafi masuk dalam parlemen ? Jawabnya mungkin”. Bahkan dia juga mengatakan “Mungkinkah Salafiy membentuk partai?”Jawab saya : “Mungkin”. Na’udzu billahi min dzalik. Sebagian lagi meramal dengan ramalan yang batil yang muncul dari pemikiran yang kerdil dan picik “Jika….jadi presiden bisa jadi salafi akan dilarang sebagaimana Ikhwanul Muslimin[2] dilarang di Mesir”.
Apakah ini yang diinginkan oleh para ulama yang berpendapat bolehnya ikut pemilu karena untuk memilih yang lebih ringan madharatnya???!!! Apakah ini yang juga difatwakan dan dipratekkan oleh para ulama tersebut???!!! Ataukah ini telah keluar batas dari fatwa mereka ???!!! Ataukah mereka sudah menganggap diri sebagai ulama yang siap berijtihad setiap saat???!!![3] Apakah karena gelar atau popularitas yang tinggi hingga mereka lupa diri???!!! Laa haula wa laa quwwata illa billahi.
Inilah fenomena yang amat memprihatinkan sekarang ini dalam Dakwah Salafiyah di negeri ini. Hari-hari yang dulu sejuk dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta atsar salafushshaleh berganti dengan isu-isu politik yang panas, kotor dan keji[4]. Pembahasan tauhid Asma’ Wa shifat terkalahkan dengan permainan nama-nama capres.
لِمِثْلِ هَذَا يَذُوْبُ القَلْبُ مِنْ كَمَدٍ إِنْ كَانَ فِيْ القَلْبِ إِسْلَامٌ وَإِيْمَانُ
Karena inilah hati meleleh dengan kesedihan
Jika dalam hati itu masih ada keislaman dan keimanan
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”. [Ali–Imran/3 : 8]
Inilah fenomena baru yang menyusup dalam Dakwah Salafiyah di negeri yang kita cintai ini –semoga Allah menganugerahkan pemimpin yang terbaik bagi Islam dan kaum muslimin di negeri ini-. Bahkan salah satu saudara kita hafidzahullahu berkata : “Ini merupakan fitnah besar selama Dakwah Salafiah di Indonesia. Ini masalah besar umat, kok beraninya beberapa ustadz berfatwa”[5]. Tidakkah mereka takut menjadi orang-orang yang mencontohkan dalam Islam jalan kejelekan hingga dia menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengikutinya ?![6] Nas’alullaha As-Salaamah wa A’fiyah.

Wednesday, December 18, 2013

Resensi Kitab Millah ibrahim

Studi Kritis Kitab Millah ibrahim

Judul asli          :Millah ibrahim wa da'wah al-ambiya wa al mursalin
Penulis             : Abu Muhammad Al Maqdisi
Penerjemah      : Abu Sulaiman Aman Abdurahman
Judul indonesia : Millah ibrahim
Dipublikasikan : www.millahibrahim.wordpress.com

Siapakah Penulis?


Abu Muhammad Al Maqdisi  yang memiliki nama lengkap 'ashim ibnu Muhammad ibnu Thahir Al butqawi. Dia lahir di desa Burqah daerah Nablis Palestina.

Latar Belakang Pendidikan Penulis

Dia besar di Kuwait dan pada awalnya nerguru dengan Muhammad Surur ibnu Nayif Zainal Abidin tokoh utama kelompok Sururiyyah hingga dia dikeluarkan dari kelompok Muhammad Surur kerena fatwanya yang menyelisihi kelompok tersebut, kemudian dia berguru kepada para pemuda sisa sisa kelompok Juhaiman yang tinggal di Kuwait, dan mengarang beberapa kitab seperti kawassyif jaliyyah. Millah ibrahim Murji'ah Asr dan lainnya, kemudian dia dikeluarkan dari kelompok tersebut karena ketergesaan nya dalam takfir, maka dia menyerang balik kelompok tersebut dengan menulis sebuah risalah kecil yang menyifatkan mereka sebagai "taghut thagut kecil" . Sesudah itu, dia bergabung dengan beberapa person yang ghuluw )melampui batas) dalam takfir (mengkafirkan kaum muslimin) yang mereka tidak shalat di masjid masjid kaum muslimin dan shalat jum'at dipadang pasir (lihat tabdid kawasyif hl 24-25)

Penghianatan ilmiyah dengan memotong perkataan Ulama

Al Maqdisi seringkali memotong perkataan perkataan para Ulama guna mendukung hawa nafsunya, diantara contohnya adalah:
1. Al maqdisi berkata dalam halaman 38 dari bukunya ini:
"Al alamah ibnu qoyyim rahimahullah berkata"tatkala Allah Subhahu Wa ta'ala melarang kaum muslimin dari loyalitas terhadap orang orangkafir makahal itu menuntut untuk memusuhi mereka, bara' darinya dan terang terangan memusuhi mereka di setiap keadaan"(badaiul fawaid3/69)"

Friday, December 6, 2013

Tidak ada hijrah Setelah Futuh Mekkah?

Kajian Ustadz Abu Hazim pembahasan Hadist ketiga dalam kitab Riadus sholihin


 3- ﺔﺸﺋﺎﻋ ﻦﻋﻭ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﱯﻨﻟﺍ ﻝﺎﻗ ﺖﻟﺎﻗ ﺎﻬﻨﻋ ﷲﺍ ﻲﺿﺭ :   "  ،ﺢﺘﻔﻟﺍ ﺪﻌﺑ ﺓﺮﺠﻫ ﻻ
ﻦﻜﻟﻭ ﺍﻭﺮﻔﻧﺎﻓ ﰎﺮﻔﺘﺳﺍ ﺍﺫﺇﻭ ،ﺔﻴﻧﻭ ﺩﺎﻬﺟ "   )  ) ﻪﻴﻠﻋ ﻖﻔﺘﻣ (  (  .    ﻩﺎﻨﻌﻣﻭ :  ﺕﺭﺎﺻ ﺎﻷ ﻪﻜﻣ ﻦﻣ ﺓﺮﺠﻫ ﻻ 
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, berkata: Nabi  bersabda: “Tidak ada hijrah setelah futuh/penaklukan (Makkah), tetapi yang ada ialah jihad dan niat. Maka dari itu, apabila engkau semua diminta untuk keluar – oleh imam untuk berjihad, – maka keluarlah – yakni berangkatlah.” (Muttafaq ‘alaih)
DOWNLOAD FORMAT mp3 rev

Link download diatas merupakan kajian Ustadz Abu Hazim Magetan mengenai kitab Riadus Shalihin yang dilaksanakan setiap hari Jum'at setelah sholat Asar di Masjid Lik (lingkungan Penyamakan Kulit) Magetan. Pada kesempatan kali ini kajian membahas mengenai hadist ketiga dalam Kitan Riadus sholihin seputar hadist “Tidak ada hijrah setelah futuh/penaklukan (Makkah), tetapi yang ada ialah jihad dan niat. Maka dari itu, apabila engkau semua diminta untuk keluar – oleh imam untuk berjihad, – maka keluarlah – yakni berangkatlah.” (Muttafaq ‘alaih).

Sekilas Kajian:

Kajian membahas mengenai pengertian hijrah, pembagian hijrah menjadi beberapa jenis, arti dari hadist diatas, seputar hukum hukum jihad, fiqh dalam jihad, jenis jenis harta yang boleh diambil dalam peperangan, Untuk selengkapnya anda bisa langsung mendownload di link diatas

Saturday, October 19, 2013

Aturan Tawanan Perang

Aturan islam dalam Tawanan Perang

Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan dalil firman-Nya.


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَالَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى اْلأَرْضِ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ اْلأخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ قَلِيلٌ إِلاَّ تَنفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلاَتَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu : 'Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah' kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu. Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu" [At-Taubah : 38-39]


Download rekaman Kajian seputar Bagaimana islam mengatur mengenai Tawanan Perang dalam jihad, simak pembahasannya oleh ustadz Abu Arqom 

JIHAD DI SURIAH

JIHAD DI SURIAH

DAN HAKEKAT FRONT PEMBELAAN (Al-Nusra Front)

asy-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali






Pertanyaan : Apa fatwa anda tentang konflik Suriah? Apakah terhitung sebagai jihad syar’i? dan apakah berperang bersama pasukan Independen (Free Syrian Army/FSA) termasuk berperang di bawah bendera?

Friday, September 13, 2013

JANGAN MEMBELA KELOMPOK SESAT !


بسم الله الرحمن الرحيم

JANGAN MEMBELA KELOMPOK SESAT !



Pada artikel sebelumnya yang berjudul FATWA-FATWA ULAMA AHLUS SUNNAH TENTANG KELOMPOK-KELOMPOK ISLAM KONTEMPORER telah dijelaskan bahwa semua kelompok yang menyelisihi manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kelompok yang menyimpang dari jalan yang benar. Pada artikel ini insya Allah terdapat penjelasan tentang hukum membela kelompok-kelompok tersebut.
Dari ‘Uqbah bin Alqomah –rahimahullah-, ia berkata, “Tatkala aku bersama Arthoah bin al-Mundzir –rahimahullah-, maka berkatalah sebagian orang yang hadir kepada beliau, “Apa pendapatmu terhadap seseorang yang bergaul dan bergabung dengan Ahlus Sunnah, namun jika disebutkan tentang kejelekan ahlul bid’ah, ia berkata, “Jangan perdengarkan kepada kami pembicaraan tentang kejelekan mereka, jangan menyebut-nyebut mereka”?”

Friday, August 23, 2013

Nasehat Untuk ikhwanul Muslimin


Mengambil pelajaran dari sejarah suatu bangsa dan kisah yang telah berlalu adalah perintah Allah ta’ala kepada kaum mukminin,
قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذَّبِينَ
“Telah lewat sebelum kalian ujian-ujian yang menimpa pengikut para nabi, maka berjalanlah di muka bumi lalu lihatlah bagaimana akibat yang jelek bagi orang-orang yang mendustakan.” [Ali Imron: 137]
Sebetulnya, sejarah yang telah berlalu telah memberikan pelajaran besar bagi umat Islam, bahwa pemberontakan terhadap pemerintah muslim yang zalim hanyalah mendatangkan kemudaratan yang lebih besar dibanding manfaatnya. Namun sayang kelompok bid’ah Ikhwanul Muslimin belum juga mau mengambil pelajaran, mereka korbankan nyawa-nyawa kaum muslimin hanya demi meraih kekuasaan yang terampas dari tangan mereka.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
أن الله تعالى بعث محمدا صلى الله عليه وسلم بصلاح العباد في المعاش والمعاد وأنه أمر بالصلاح ونهى عن الفساد فإذا كان الفعل فيه صلاح وفساد رجحوا الراجح منهما فإذا كان صلاحه أكثر من فساده رجحوا فعله وإن كان فساده أكثر من صلاحه رجحوا تركه فإن الله تعالى بعث رسوله صلى الله عليه وسلم بتحصيل المصالح وتكميلها وتعطيل المفاسد وتقليلها فإذا تولى خليفة من الخلفاء كيزيد وعبد الملك والمنصور وغيرهم فإما أن يقال يجب منعه من الولاية وقتاله حتى يولى غيره كما يفعله من يرى السيف فهذا رأى فاسد فإن مفسدة هذا أعظم من مصلحته وقل من خرج على إمام ذي سلطان إلا كان ما تولد على فعله من الشر أعظم مما تولد من الخير كالذين خرجوا على يزيد بالمدينة وكابن الأشعث الذي خرج على عبد الملك بالعراق وكابن المهلب الذي خرج على ابنه بخراسان وكأبي مسلم صاحب الدعوة الذي خرد عليهم بخراسان أيضا وكالذين خرجوا على المنصور بالمدينة والبصرة وأمثال هؤلاء وغاية هؤلاء إما أن يغلبوا وإما أن يغلبوا ثم يزول ملكهم فلا يكون لهم عاقبة فإن عبد الله بن علي وأبا مسلم هما اللذان قتلا خلقا كثيرا وكلاهما قتله أبو جعفر المنصور وأما أهل الحرة وابن الأشعث وابن المهلب وغيرهم فهزموا وهزم أصحابهم فلا أقاموا دينا ولا أبقوا دنيا والله تعالى لا يأمر بأمر لا يحصل به صلاح الدين ولا صلاح الدنيا وإن كان فاعل ذلك من أولياء الله المتقين ومن أهل الجنة
“Bahwa Allah ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam demi kemaslahatan para hamba di kehidupan dunia dan akhirat, dan bahwa beliau memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kerusakan, maka apabila dalam satu perbuatan terdapat kebaikan dan kerusakan, hendaklah kaum muslimin mengambil mana yang paling kuat dari keduanya; jika kebaikannya lebih banyak dari kerusakannya, hendaklah mereka melakukannya. Namun apabila kerusakannya lebih banyak dari kebaikannya, hendaklah mereka meninggalkannya, karena sesungguhnya Allah ta’ala mengutus Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam untuk menghasilkan kemaslahatan dan menyempurnakannya, serta menghilangkan kemudaratan dan menguranginya.

Monday, August 5, 2013

Siapa Sururi?

Penyimpangan Kelompok Sururiyyah

Kelompok ini memiliki ciri-ciri khas, kesesatan dan penyimpangan dari manhaj yang lurus, manhaj Salafus Shalih. Di antara penyimpangan-penyimpangan mereka adalah berikut:

Pertama, kebencian mereka kepada kitab-kitab Aqidah. Muhammad Surur berkata, “Aku melihat kitab-kitab aqidah, ternyata kitab-kitab itu ditulis bukan pada zaman kita, kitab-kitab itu adalah solusi untuk beberapa problematika pada saat kitab-kitab itu di tulis, sedangkan zaman kita sekarang ini membutuhkan solusi-solusi yang baru, dari sinilah maka gaya bahasa dari kitab-kitab aqidah banyak yang kering, karena hanya terdiri dari nash-nash dan hukum-hukum…” (Manhajul Anbiya fi Da’wah Ilallah 1/8). Ucapan ini telah di bantah oleh para ulama seperti Syaikh Ibnu Baz, Al-Albani, Al-Fauzan, sebagaimana nanti akan kami sebutkan.

Kedua, kecenderungan mereka kepada pemikiran Khawarij. Hal ini nampak pada pemikiran takfirnya, yaitu mengafirkan seorang muslim dengan kemaksiatan yang dia lakukan, baik mereka itu penguasa maupun rakyat.

Adapun pengafirannya pada para penguasa muslim maka tampak jelas pada tulisan-tulisannya di majalah As-Sunnah Al-Britaniyyah yang terbit dari London Inggris. Adapun pengafirannya kepada kaum muslimin secara umum maka tampak pada perkataannya di kitabnya Manhajul Anbiya Fi Da’wah Ilallah 1/158, “Kaum Luth jika menerima ajakan Nabi mereka agar beriman kepada Allah dan meninggalkan kesyirikan maka hal itu tidaklah bermakna bagi mereka, jika mereka tidak meninggalkan kebiasaan buruk mereka dari mendatangi sesama jenis yang mereka sepakat melakukannya.”

Demikianlah Muhammad Surur mengafirkan pelaku dosa besar secara mutlak walaupun pelakunya tidak menghalalkannya. Ucapan di atas telah di bantah oleh Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin Fauzan dalam kaset “Pentingnya Tauhid”. (Madarikun Nadzhar hal. 120 oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani).

Ada apa dengan SURURIYYAH???


بسم الله الرحمن الرحيم

RINGKASAN UCAPAN ULAMA UMMAH
TENTANG KESESATAN SURURIYYAH

Disusun Oleh:
Abu Fairuz Abdurrohman bin Sukaya Aluth Thuri Al Qudsi Al Indonesia-semoga Alloh menjaganya-
(Markaz Induk Darul Hadits Dammaj Yaman –Harosahallohu-)
Dengan Muroja’ah:
Para Masyayikh dan Pengajar Markaz Induk Darul Hadits Dammaj Yaman –Harosahallohu-:
Asy Syaikh Al Fadhil Al Faqih Jamil Bin Abdah Ash Shilwi -hafidzhahulloh-
Dan Asy Syaikh Al Fadhil  Abu Amr Abdul Karim Al Hajuri -hafidzhahulloh-
Dan Asy Syaikh Al Fadhil Al Mujahid Muhammad bin Husain Al ‘Amudi Al ‘Adni -hafidzhahulloh-

Pendahuluan
Segala pujian yang sempurna bagi Alloh Yang telah berfirman:

}وما أمروا إلا ليعبدوا اللَّه مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة وذلك الدين القيمة{

“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali agar mereka beribadah kepada Alloh dalam keadaan memurnikan ketaatan kepada-Nya dan condong dari kesyirikan kepada tauhid, dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat, dan itulah agama yang lurus.” (QS Al Bayyinah 5(
Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang benar selain Alloh dan bahwasanya Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya, yang bersabda:

إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى. فمَنْ كانت هجرته إِلَى اللَّه ورسوله فهجرته إِلَى اللَّه ورسوله، ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إِلَى ما هاجر إليه

“Sesungguhnya amalan itu hanyalah sesuai dengan niatnya, dan hanyalah setiap orang itu akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Maka barangsiapa hijrohnya itu kepada Alloh dan Rosul-Nya maka hijrohnya itu adalah kepada Alloh dan Rosul-Nya dan barangsiapa hijrohnya itu kepada dunia yang akan diperolehnya atau perempuan yang akan dinikahinya maka hijrohnya itu adalah kepada apa yang diniatkannya.” (HSR Al Bukhori dan Muslim).
Wahai Allah limpahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarganya, kemudian daripada itu:
Maka sesungguhnya Allah ta’laa berfirman :

}وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآَيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِين{ .

“Dan demikianlah kami memperinci ayat-ayat dan agar jelaslah jalan orang – orang yang jahat.”
Dan Hudzaifah ibnul Yaman radhiyalloh `anhuma berkata:

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي. الحديث

“Dulu orang-orang bertanya kepada Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan karena aku takut akan menimpa diriku (al hadits)” (HSR Al Bukhori dan Muslim)

Siapa itu Sururi?


Oleh: Al-Ustadz Abu Umar Basyier Al-Maidani
Di saat gencar-gencarnya dakwah Ahlussunnah berkembang di negeri kita ini, sebagai kelanjutan dari pelbagai usaha dakwah yang telah ditempuh oleh bahkan kalangan juru dakwah semenjak dahulu, muncullah sebuah delema unik: Sururiyyah. Keunikan itu bukan dari fenomena Sururiyyah, yang juga telah banyak dijelaskan oleh para ulama Ahlussunnah di berbagai negeri Islam, tapi justru pada penempatan kata tersebut dan penyematannya pada pribadi atau golongan tertentu yang terkesan ‘ngawur’ dan tidak didasari oleh unsur keikhlasan, tanpa bimbingan para ulama secara cermat, sehingga jadilah fenomena ini sebagai dilema unik, yang dijamin, di Indonesialah keunikan itu terlihat paling kelihatan!
Sungguh benar yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang artinya, “Sesungguhnya setan mengalir dalam tubuh menusia, tak ubahnya aliran darah.” i-
Saat semangat generasi Islam dari berbagai lapisan sudah mulai menggeliat menggapai nilai-nilai Islam untuk diterapkan pada berbagai aspek kehidupan, generasi Ahlussunnah tentu saja berada di barisan terdepan. Generasi Ahlussunnah, atau juga dikenal dengan dengan salafiyyun, dari hari ke hari juga semakin menampakkan perwujudannya sebagai Thaifah Manshurah (golongan yang mendapat pertolongan) atau Firqatun Najiyah (golongan yang selamat). Komitmen mereka terhadap ajaran As-Sunnah semakin menonjol saja. Namun, setan memang tidak pernah beristirahat menggoda anak cucu Adam.
“Setan sudah putus asa disembah oleh kaum muslimin. Namun, yang ia upayakan adalah menanamkan hasad di antara mereka.” ii-
Bibit kedengkian itulah yang mungkin semakin menggurita sehingga menjadi momok yang sangat menakutkan bagi generasi Ahlussunnah. Saat di antara mereka yang ‘menganggap suci diri sendiri’, di saat tidak sedikit di antara mereka ingin dianggap sebagai pelopor dakwah paling utama, di saat sekian banyak di antara mereka tenggelam dalam keasyikan mengecam dan mencaci maki kaum muslimin yang dianggap masih jauh dari kebenaran, saat itulah, bibit kedengkian meledak menjadi obor permusuhan. Yang menjadi korban tidak tanggung-tanggung, bukan saja kalangan juru dakwah yang memiliki pelbagai persoalan pribadi dengan mereka, tapi juga masyarakat awam yang tidak tahu menahu tentang permasalahan yang terjadi. Masyarakat awam yang sebenarnya sedang hangat-hangatnya semangat mereka untuk menuntut ilmu. Kelompok tersebut menggunakan kata “Sururiyyah” sebagai salah satu peluru andalan. iii-
Apa Itu Sururiyyah?
Sururiyyah adalah bentuk kata yang disandarkan kepada nama seorang juru dakwah bernama ‘Muhammad surur Zainal Abidin’, yang konon bermukim di Birmingham, Inggris.

Tuesday, July 2, 2013

Membongkar Penyimpangan Syaikh DR, Muhammad Al Arifi

Menguak Penyimpangan Pemahaman Sosok Syaikh DR. Muhammad Al Arifi dan Salman Al Audah. 


Menyingkap Kerancuan Seputar Hadist Ketaatan (judul asli)



               Tidak tersembunyi lagi bagi setiap muslim tentang mafsadat yang besar yang di akibatkan oleh pemberontakan kepada penguasa muslim. Sejarah membuktikan bahwa tidak pernah diketahui dari kelompok manapun yang memberontak kepada penguasa melainkan kerusakan yang ditimbulkan oleh pemberontakan tersebut lebih besar dari kerusakan yang dihilangkan.

           Hasil final yang didapatkan oleh para pemberontak adalah adakalanya mereka kalah dan adakalanya mereka menang kemudian hilang kekuasaan mereka tanpa ada bekasnya. Jadi, pemberontakan tidaklah menegaskan agama dan tidak memperbaiki dunia

          Jauh jauh sebelumnya Rasullah telah memerintahkan setiap muslim agar selalu taat kepada para waliyul amri, tidak membatalkan bai’at, sabar atas kecurangan para penguasa, dan sekaligus melarang memerangi para penguasa meskipun mereka melakukan kemungkaran. Begitu pentingnya masalah ini sehingga hampir hampir tidak ada penulis yang menulis tentang aqidah melainkan menuliskan pokok ini dalam kitab kitab mereka.
Akan tetapi sangat disayangkan masih ada orang orang yang menyelisihi hal ini dengan lisan dan perbuatan.
Diantara syubhat-syubhat yang mereka lontarkan untuk menyebarkan keraguan dan kerancuan atas hadist Hudzaifah yang mewajibkan ketaatan setiap muslim terhadap setiap pemimpin yang baik maupun yang dzolim.

Maka memohon pertolongan Allah kali ini akan kami bahas jawaban subhat tersebut dengan banyak mengambil faidah dari situs http://www.islamancient.com/

Monday, December 24, 2012

Syaikh Muqbil berbicara tentang Sururiyah


SURURIYAH (edisi lengkap) oleh: Asy-Syaikh Muqbil Al Wadi'i -Rahimahullah-

بسم الله الرحمن الرحيم


Kapan seseorang (boleh) dicap misalnya dengan (lebel) sururi atau turatsi?

Tanya-jawab bersama: Asy-Syaikh Muqbil Al Wadi’i –Rahimahullah

Tanya-jawab ini berlangsung di masjid Darul Hadits Dammaj pada tanggal 31 Mei 1999 Masehi

Tanya: Kapan seseorang (boleh) dicap misalnya dengan (lebel) sururi atau turatsi, kemudian apabila seseorang dicap dengan lebel demikian, apakah lebel ini berarti bahwa orang itu mubtadi’?

Jawab: Seseorang dicap dengan lebel sururi apabila ia mengetahui pendapat-pendapat Muhammad Zainul Abidin, ya (seorang) pimpinan sururiyah. Maka apabila seseorang mengetahui perkataan-perkataannya dan mengambilnya (sebagai ajaran) dan menyerang ulama, ya mereka mengatakan ulama tidak memahami waqi’ (realita). Dan bersemangat seperti semangat dia dan para pengikutnya pada perkara “meminta bantuan kepada Amerika” –semoga Allah menghancurkan mereka- . Mereka mengatakan; tidak boleh meminta bantuan kepada Amerika. Padahal penduduk Kuwait dan Saudi Arabia pada waktu itu mereka terdesak. Dan mereka –segala puji bagi Allah- benci kepada Amerika. Karena Amerika ingin mengambil kekayaan (alam) mereka. Wallahulmusta’an.


KETIMPANGAN MANHAJ MUWAZANAH
Oleh : Al-Ustadz Arif Fat-hul Ulum bin Ahmad Saifullah
timbanganTelah kita jelaskan pada pembahasan yang lalu bahwa membantah ahli bid’ah dan mengkritik mereka adalah salah satu dari pokok-pokok agama yang agung, bahkan merupakan jihad fi sabilillah yang paling utama, karena ahli bid’ah lebih berbahaya dibandingkan orang kafir. Membantah ahli bid’ah adalah salah satu pokok-pokok manhaj salaf yang diterapkan oleh para ulama salaf dari masa ke masa.
Tetapi ternyata baru-baru ini muncul kelompok sururiyyah [1] atau quthbiyyah [2] yang menyebarkan keragu-raguan terhadap manhaj salaf dalam membantah ahli bid’ah, bahkan berusaha mengganti manhaj salaf dalam masalah ini dengan manhaj mereka. Mereka cetuskan manhaj yang baru di dalam mengkritik person, tulisan dan kelompok yang mereka namakan manhaj muwazanah, yaitu manhaj yang mengharuskan bagi siapa saja yang mengkritik kesalahan person, tulisan ataupun kelompok untuk menyebutkan kebaikan dan kejelekannya secara bersamaan, karena ini adalah sikap yang adil menurut mereka. [3]. Manhaj ini dinamakan juga oleh para pencetusnya sebagai manhaj Al-‘Adl wal Inshaf.[4]
Berikut ini akan kami paparkan ketimpangan manhaj muwazanah dan bahwasanya keadilan yang hakiki adalah manhaj Islam yang dipraktekkan oleh generasi terbaik dari kalangan sahabat, tabi’in dan para imam kaum muslimin, dengan banyak menukil dari risalah Syaikhuna Al-Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali yang berjudul Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah Fi Naqdir Rijal wal Kutub Wath-Thowaif, cetakan kedua tahun 1413H.
MANHAJ ISLAM DAN PARA IMAM DALAM MENGKRITIK PERKATAAN DAN PERSON
[A]. Allah Subhanahu wa Ta’ala Memuji Orang-Orang Yang Beriman Tanpa Menyebut Kejelekan Mereka Dan Mencela Orang-Orang Kafir Dan Munafiq Tanpa Menyebut Kebaikan Mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang beriman di dalam ayat-ayat yang banyak, dan menyebutkan pahala yang agung yang Dia siapkan bagi orang-orang yang beriman, tanpa menyebutkan sedikitpun dari kesalahan mereka –seperti yang diharuskan oleh para pencetus manhaj muwazanah- padahal : ‘Setiap anak Adam adalah selalu berbuat kesalahan”, dan hikmah yang diambil dari menyebut kebaikan mereka tanpa menyebut kejelekan mereka adalah untuk menggerakkan hati setiap manusia agar meniru dan meneladani mereka.
Di sisi lain Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang kafir dan munafik di dalam ayat-ayat yang banyak tanpa menyebut sedikitpun dari kebaikan mereka, karena kekufuran dan kesesatan mereka telah merusak kebaikan-kebaikan mereka dan menjadikannya tidak bernilai sama sekali seperti debu yang berterbangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” [Al-Furqan : 23]
Demikian juga Allah mengkisahkan kepada kita umat-umat terdahulu yang mendustakan rasul-rasul mereka. Allah sebutkan kekufuran dan kebatilan mereka dan kemudian hukuman kepada mereka dan penghancuran mereka, tanpa menyebut sedikitpun dari kebaikan mereka, karena tujuan yang asasi dari penyebutan kisah mereka adalah sebagai peringatan kepada umat-umat sesudah mereka agar menjauhi perbuatan mereka dari kekufuran dan pendustaan kepada rasul-rasul mereka, supaya tidak mengalami kehancuran sebagaimana kehancuran mereka.
Kemudian Allah juga menyebut orang-orang Yahudi dan Nashara dengan sifat-sifat buruk yang ada pada mereka, dan mengancam mereka dengan ancaman yang keras, tanpa menyebut sedikitpun dari kebaikan mereka yang telah mereka hilangkan nilainya dengan kekufuran dan pendustaan mereka terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta penyelewengan mereka terhadap kitab mereka.
Inilah manhaj Allah didalam mencela orang-orang kafir dan munafiq, dan inilah manhaj yang paling adil, karena Allah adalah Dzat yang Maha adil.
[B]. Peringatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Kepada Umatnya Dari Bahaya Ahli Bid’ah.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya dari kejelekan ahli bid’ah tanpa menyebut sedikitpun dari kebaikan mereka, karena kebaikan mereka tidak bernilai, sedangkan bahaya mereka lebih besar daripada maslahat yang diharapkan dari kebaikan mereka.
Dari Aisyah bahwasanya dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini.
“Artinya : Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepada kalian. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan,maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : ‘Kami beriman keapda ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal” [Ali-Imran : 7]
Aisyah berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Jika engkau melihat orang-orang yang mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat ; mereka itulah yang disebut Allah dalam kitabNya, maka awaslah dari mereka!” [Muttafaq ‘Alaih, Shahih Bukhari 4547 dan Shahih Muslim 2665]
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Akan datang pada akhir umarku orang-orang yang menyampaikan kepada kalian apa-apa yang tidak pernah kalian dengar dan tidak pernah didengar oleh bapak-bapak kalian, maka awaslah kalian dari mereka!” [Sahih Muslim 1/12]
Merupakan hal yang dimaklumi bahwa ahli bid’ah tentu memiliki kebaikan, tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menoleh sama sekali kebaikan mereka, dan tidak menyebutkannya sama sekali, dan tidak mengatakan : “Ambillah manfaat dari kebaikan mereka dan sebutkanlah kebaikan mereka ketika mengkritik mereka!”
Tetapi sangat disayangkan bahwa keadaan sekarang ini telah berbalik seratus delapan puluh derajat, sekarang sering kita dapati seorang yang mengaku bermanhaj salaf tetapi dia loyal kepada ahli bid’ah, membela manhaj ahli bid’ah dan membela tulisan-tulisan mereka dengan mati-matian, dan di lain pihak mereka jauhkan umat dari ahli haq dan ahli sunnah ! Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raaji’uun.

Saturday, August 25, 2012

Surury MANHAJ MUWAZANAH


KETIMPANGAN MANHAJ MUWAZANAH
Oleh : Al-Ustadz Arif Fat-hul Ulum bin Ahmad Saifullah
timbanganTelah kita jelaskan pada pembahasan yang lalu bahwa membantah ahli bid’ah dan mengkritik mereka adalah salah satu dari pokok-pokok agama yang agung, bahkan merupakan jihad fi sabilillah yang paling utama, karena ahli bid’ah lebih berbahaya dibandingkan orang kafir. Membantah ahli bid’ah adalah salah satu pokok-pokok manhaj salaf yang diterapkan oleh para ulama salaf dari masa ke masa.
Tetapi ternyata baru-baru ini muncul kelompok sururiyyah [1] atau quthbiyyah [2] yang menyebarkan keragu-raguan terhadap manhaj salaf dalam membantah ahli bid’ah, bahkan berusaha mengganti manhaj salaf dalam masalah ini dengan manhaj mereka. Mereka cetuskan manhaj yang baru di dalam mengkritik person, tulisan dan kelompok yang mereka namakan manhaj muwazanah, yaitu manhaj yang mengharuskan bagi siapa saja yang mengkritik kesalahan person, tulisan ataupun kelompok untuk menyebutkan kebaikan dan kejelekannya secara bersamaan, karena ini adalah sikap yang adil menurut mereka. [3]. Manhaj ini dinamakan juga oleh para pencetusnya sebagai manhaj Al-‘Adl wal Inshaf.[4]
Berikut ini akan kami paparkan ketimpangan manhaj muwazanah dan bahwasanya keadilan yang hakiki adalah manhaj Islam yang dipraktekkan oleh generasi terbaik dari kalangan sahabat, tabi’in dan para imam kaum muslimin, dengan banyak menukil dari risalah Syaikhuna Al-Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali yang berjudul Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah Fi Naqdir Rijal wal Kutub Wath-Thowaif, cetakan kedua tahun 1413H.
MANHAJ ISLAM DAN PARA IMAM DALAM MENGKRITIK PERKATAAN DAN PERSON
[A]. Allah Subhanahu wa Ta’ala Memuji Orang-Orang Yang Beriman Tanpa Menyebut Kejelekan Mereka Dan Mencela Orang-Orang Kafir Dan Munafiq Tanpa Menyebut Kebaikan Mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang beriman di dalam ayat-ayat yang banyak, dan menyebutkan pahala yang agung yang Dia siapkan bagi orang-orang yang beriman, tanpa menyebutkan sedikitpun dari kesalahan mereka –seperti yang diharuskan oleh para pencetus manhaj muwazanah- padahal : ‘Setiap anak Adam adalah selalu berbuat kesalahan”, dan hikmah yang diambil dari menyebut kebaikan mereka tanpa menyebut kejelekan mereka adalah untuk menggerakkan hati setiap manusia agar meniru dan meneladani mereka.
Di sisi lain Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang kafir dan munafik di dalam ayat-ayat yang banyak tanpa menyebut sedikitpun dari kebaikan mereka, karena kekufuran dan kesesatan mereka telah merusak kebaikan-kebaikan mereka dan menjadikannya tidak bernilai sama sekali seperti debu yang berterbangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

Wednesday, February 8, 2012

Muktamar 1 NU tidak boleh menyediakan makanan kepada pentakziah


MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
TENTANG 
KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH


TANYA :
Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?
JAWAB :
Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu. [1]
KETERANGAN : 
Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
“MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN ( YANG DILARANG ).”

Friday, January 6, 2012

4 mahzab mengharamkan musik



Benarkah Musik,Lagu,Nyanyian itu Haram? 

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarokatuh,
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

Thursday, December 8, 2011

Bagaimana Menasihati Pemerintah yang Dzolim???


بسم الله الرحمن الرحيم

Tuntunan Islam dalam Menasihati Penguasa

(Sebuah Renungan bagi Para Pencela Pemerintah)


Telah dimaklumi bersama bahwa merubah kemungkaran dan menasihati pelakunya adalah kewajiban setiap muslim sesuai dengan kemampuannya. Sebagaimana sabda Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam-:

من رأى منكم منكراً فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, no. 186)

Akan tetapi, masih banyak kaum muslimin yang belum memahami bahwa untuk merubah kemungkaran yang dilakukan oleh pemerintah muslim tidak sama dengan merubah kemungkaran yang dilakukan oleh selainnya. Bahkan lebih parah lagi, kemungkaran yang dilakukan penguasa dijadikan sebagai komoditi untuk meraih keuntungan oleh sebagian media massa. Mahasiswa pun turun ke jalan untuk berdemonstrasi, tak ketinggalan pula para “aktivis Islam” atau “aktivis dakwah” melakukan “aksi damai” yang menurut mereka itulah demo Islami, sehingga pada akhirnya masyarakatlah yang menjadi korban.

Namun yang sangat mengherankan, ada sebagian orang yang mengaku Ahlus Sunnah, pengikut sunnah Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- pun turut serta melakukan demonstrasi (yang mereka namakan dengan aksi damai) dan mengkritik pemerintah muslim secara terang-terangan di media massa. Maka seperti apakah bimbingan Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah ini?

Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- yang ma’shum, yang tidak berkata kecuali wahyu yang diwahyukan kepadanya. Semua perkataan bisa diterima atau ditolak, kecuali perkataan beliau -shallallahu’alaihi wa  sallam-, beliau bersabda:

من أراد أن ينصح لذي سلطان فلا يبده علانية ولكن يأخذ بيده فيخلوا به فإن قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذي عليه

Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban (menasihati penguasa).” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah dari ‘Iyadh bin Ganm -radhiyallahu’anhu-. Hadits ini di-shahih-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani –rahimahullah- dalam Zhilalul Jannah, (no. 1096)]

Demikianlah bimbingan Nabi yang mulia teladan kita –shallallahu’alaihi wa sallam- dalam menasihati penguasa. Lalu seperti apakah pemahaman dan pengamalan terhadap hadits di atas oleh para pengikut sunnah yang sejati, yakni para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah?

Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim -rahimahumallah- dalam Shahih keduanya meriwayatkan:

قيل لأسامة لو أتيت فلانا (عند الامام مسلم: عثمان بن عفانرضي الله عنه-) فكلمته . قال إنكم لترون أنى لا أكلمه إلا أسمعكم ، إنى أكلمه فى السر دون أن أفتح بابا لا أكون أول من فتحه

Dikatakan kepada Usamah (bin Zaid) radhiyallahu’anhuma, “Kalau sekiranya engkau mendatangi si fulan (dalam riwayat Al-Imam Muslim, si fulan yang dimaksud adalah: Utsman bin Affan radhiyallahu‘anhu) lalu engkau menasihatinya?” Usamah menjawab, “Sesungguhnya kalian benar-benar mengira bahwa aku tidak menasihatinya, kecuali jika aku memperdengarkannya kepada kalian?! Sungguh aku telah menasihatinya secara diam-diam, tanpa aku membuka sebuah pintu yang semoga aku bukanlah orang pertama yang membuka pintu tersebut.” [HR. Al-Bukhari, (no. 3267, 7098) dan Muslim, (no. 7408) dari Abu Wa’il radhiyallahu’anhu]

Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah- menjelaskan maksud perkataan Usamah bin Zaid -radhiyallahu’anhuma-, “Sungguh aku telah berbicara (menasihati) beliau tanpa aku membuka sebuah pintu“, maknanya adalah: “Aku telah menasihatinya dalam perkara yang kalian isyaratkan tersebut, tetapi dengan memperhatikan maslahat dan adab (dalam menasihati penguasa), yakni secara rahasia, sehingga tidak terjadi pada perkataan (nasihatku) ini sesuatu yang bisa mengobarkan fitnah.” [Lihat Fathul Bari, (13/51)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- juga menukil penjelasan sebagian ulama tentang kemungkaran yang diisyaratkan kepada Usamah bin Zaid -radhiyallahu’anhuma- ternyata bukanlah kemungkaran yang tersembunyi dari masyarakat, tetapi kemungkaran yang zhahir dan telah tersebar beritanya di tengah-tengah masyarakat, yaitu tentang salah seorang pejabat Utsman bin Affan -radhiyallahu’anhu- yang bernama Al-Walid bin ‘Uqbah yang tercium dari mulutnya bau nabidz (sejenis khamar), kemudian Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata dalam menjelaskan perkataan Usamah,

Sungguh aku telah menasihatinya secara rahasia (tidak terang-terangan), tanpa aku membuka sebuah pintu”, makna (pintu) yang dimaksud adalah: “Pintu pengingkaran atas kemungkaran para penguasa secara terang-terangan, karena khawatir akan memecah belah kalimat (yakni persatuan kaum muslimin di bawah seorang pemimpin)”, kemudian beliau (Usamah) memberitahu mereka bahwa ia tidak sedikitpun mencari muka pada seseorang meskipun pada seorang pemimpin, akan tetapi ia telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk menasihati pemimpin secara rahasia (tidak terang-terangan)”. [Lihat Fathul Bari, (13/52)]

Al-Qodhi ‘Iyadh –rahimahullah- berkata, “Maksud Usamah, bahwa ia tidak ingin membuka pintu (memberi contoh) cara mengingkari penguasa dengan terang-terangan, karena ia khawatir dampak buruk dari cara tersebut. Akan tetapi yang beliau lakukan adalah dengan lemah lembut dan menasihati secara rahasia, karena cara tersebut lebih dapat diterima”. [Lihat Fathul Bari, (13/52)]

Al-‘Allamah Badruddin Al-‘Aini Al-Hanafi –rahimahullah- juga menjelaskan perkataan Usamah bin Zaid -radhiyallahu’anhuma-, “Sungguh aku telah menasihatinya secara rahasia“, maknanya, “Aku menasehati penguasa secara diam-diam, sehingga aku tidak membuka sebuah pintu dari pintu-pintu fitnah. Kesimpulannya, aku (Usamah) menasihatinya demi meraih kemaslahatan bukan untuk memprovokasi munculnya fitnah (masalah), karena cara mengingkari para penguasa dengan terang-terangan terdapat semacam sikap penentangan terhadapnya. Sebab pada cara tersebut terdapat pencemaran nama baik para pemimpin yang mengantarkan kepada terpecahnya kalimat (persatuan kaum muslimin) dan tercerai-berainya jama’ah”. [Lihat Umdatul Qari Syarh Shahih Al-Bukhari, (23/33)]

Al-Imam An-Nawawi –rahimahullah- dalam menerangkan perkataan Usamah pada riwayat Muslim, beliau berkata: “Aku membuka perkara yang aku tidak suka jika akulah yang pertama membukanya (yakni mencontohkan keburukan),” maknanya adalah, “Terang-terangan dalam menasihati penguasa di depan khalayak, sebagaimana pernah terjadi pada para pembunuh ‘Utsman -radhiyallahu’anhu-. Dalam hadits ini terdapat adab bersama penguasa, lemah lembut terhadap mereka, menasihati mereka secara rahasia dan menyampaikan perkataan manusia tentang mereka agar mereka berhenti dari kemungkaran tersebut. Ini semua dilakukan jika memungkinkan, namun jika tidak memungkinkan untuk menasihati dan mengingkari kemungkaran penguasa secara rahasia, maka hendaklah seseorang melakukannya terang-terangan, agar pokok kebenaran itu tidak ditelantarkan.” [Lihat Syarah Muslim, (18/118)]

Peringatan: Perkataan Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- pada bagian akhir yang kami garisbawahi di atas maksudnya adalah jika keadaan memaksa untuk itu (bukan pada semua keadaan) karena hal tersebut bukanlah kebiasaan para sahabat, sebagaimana perbuatan sahabat Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallahu’anhu- yang dijadikan dalil oleh hizbiyun untuk membolehkan menasihati pemerintah secara terang-terangan, yang insya Allah akan kami jawab dalam penjelasan syubhat dan bantahannya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...