Tuesday, July 2, 2013

Membongkar Penyimpangan Syaikh DR, Muhammad Al Arifi

Menguak Penyimpangan Pemahaman Sosok Syaikh DR. Muhammad Al Arifi dan Salman Al Audah. 


Menyingkap Kerancuan Seputar Hadist Ketaatan (judul asli)



               Tidak tersembunyi lagi bagi setiap muslim tentang mafsadat yang besar yang di akibatkan oleh pemberontakan kepada penguasa muslim. Sejarah membuktikan bahwa tidak pernah diketahui dari kelompok manapun yang memberontak kepada penguasa melainkan kerusakan yang ditimbulkan oleh pemberontakan tersebut lebih besar dari kerusakan yang dihilangkan.

           Hasil final yang didapatkan oleh para pemberontak adalah adakalanya mereka kalah dan adakalanya mereka menang kemudian hilang kekuasaan mereka tanpa ada bekasnya. Jadi, pemberontakan tidaklah menegaskan agama dan tidak memperbaiki dunia

          Jauh jauh sebelumnya Rasullah telah memerintahkan setiap muslim agar selalu taat kepada para waliyul amri, tidak membatalkan bai’at, sabar atas kecurangan para penguasa, dan sekaligus melarang memerangi para penguasa meskipun mereka melakukan kemungkaran. Begitu pentingnya masalah ini sehingga hampir hampir tidak ada penulis yang menulis tentang aqidah melainkan menuliskan pokok ini dalam kitab kitab mereka.
Akan tetapi sangat disayangkan masih ada orang orang yang menyelisihi hal ini dengan lisan dan perbuatan.
Diantara syubhat-syubhat yang mereka lontarkan untuk menyebarkan keraguan dan kerancuan atas hadist Hudzaifah yang mewajibkan ketaatan setiap muslim terhadap setiap pemimpin yang baik maupun yang dzolim.

Maka memohon pertolongan Allah kali ini akan kami bahas jawaban subhat tersebut dengan banyak mengambil faidah dari situs http://www.islamancient.com/

Tekt Hadist Hudzaifah

Hadits Huzaifah bin al Yaman beliau bertutur:
قال حذيفة بن اليمان قلت: يا رسول الله إنا كنا بشر فجاء الله بخير فنحن فيه فهل من وراء هذا الخير شر؟، قال: نعم، قلت: هل وراء ذلك الشر خير؟ قال: نعم، قلت: فهل وراء ذلك الخير شر؟ قال نعم، قلت كيف قال: يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس قال قلت كيف أصنع يا رسول الله إن أدركت ذلك قال تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فاسمع وأطعْ

Huzaifah bin al Yaman bertutur; aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ya Rasulullah!, dulu kami berada dalam kejelekan (masa jahiliyah) lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam) yang kami sekarang berda dalamnya, apakah dibelakang kebaikan ini akan ada lagi kejelekan?“, Beliau menjawab; “Ya”.lalu Huzaifah berkata lagi: “Apaka setelah itu akan ada lagi kebaikan?” Beliau menjawab, “Ya”, Huzaifah berkata lagi,  “Apakah setelah itu akan ada lagi kejelekan?” Beliau menjawab,“Ya”. Huzaifah berkata lagi, “Bagaimana hal demikian?”, Beliau menjawab, “Akan datang pada suatu masa setelah aku para pemimpin yang tidak berpedoman kepada petunjukku, dan tidak melaksanakan sunnahku, dan akan berdiri di tengah-tengah mereka para lelaki yang hati mereka adalah hati syaitan yang terdapat dalam tubuh manusia.” Lalu Huzaifah berkata, “Apa yang harus aku lakukan ya Rasulullah, jika aku mendapati keadaan yang demikian?” “Dengar dan taatlah pada pemimpin, sekalipun ia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, maka tetaplah dengarkan dan patuhi perintahnya”. (HR.Muslim 3/1476-1847)

Perkataan Ulama tentang Hadist ini
Al Imam an-nawawi berkata dalam Syarah shahih Muslim 6/320
“Di dalam hadist Hudzaifah ini terdapat berpegang teguh dengan jama’ah kaum muslimin  dan pemimpin mereka, dan wajibnya menaatinya walaupun dia fasik dan berbuat kemaksiatan berupa mengambil harta dan yang lainnya, maka wajib menaatinya di dalam selain kemaksiatan.”

Al Hafidzh Ibnu Hajar berkata di dalam Fathul Bari 13/36 “ berpegang teguhlah dengan jama’ah kaum muslimin dan imam mereka yaitu meskipun mereka curang dan yang lebih memperjelas hal itu ialah riwayat Abil aswad:’Walaupun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu’ dan yang seperti itu banyak di dalam kepemimpinan Hajjaj dan yang lainnya”

Syaikh Shalih Al Fauzan berkata:
“Hadist ini dan yang semisalnya mengandung pokok-pokok Aqidah ahlus sunnah wal jama’ah dalam berpegang teguh dengan jama’ah kaum muslimin dan bersabar atas semua kecurangan penguasa dan kedzoliman penguasa”(Tanbihun ala khatha’in fi syarhi hadist “wa In ukhidza maluka wa dhuriba zhahruka”tertanggal 7/7/1433 dari, www.alfawzan.af.org.sa)

SALMAN AL AUDAH DAN MUHAMMAD AL-ARFI MENTAHRIF(MENGUBAH MAKNA) HADIST INI

Salman Al Audah berkata di dalam ceramahnya yang berjudul Lil Insani Huququn wa ‘alaihi wajibat (sebagamana dalam durus nya di syamillah 73/8): “kalau begitu, termasuk kesalahan besar jika saya berbicara tentang kewajiban kewajiban atas manusia kemudian saya tidak berbicara tentang hak hak yang dimiliki manusia , karena sesungguhnya manusia –sesuai dengan keberadaannya sebagai manusia yang dimuliakan Allah- selayaknya dia mengetahui apa merupakan hak haknya sehingga dia bisa menuntutnya di saat hak hak itu terlambat atau tidak dia dapatkan , karena problematik disisi kita bukanlah problem manusia dengan dirinya secara person , melainkan problemnya problematik umat. Ketka tergambar bahwa seseorang person sebagamana dalam hadist yang datang dari nabi , dan ia adalah hadist yang shahih ,tatkala beliau bersabda, ‘dengar dan taatlah, walaupun ia memukul punggungmu dan merampas hartamu’ ini shahih tdak ada masalah padanya. Akan tetapi , seandainya tergambar umat secara keseluruhan dirampas hak haknya, dirampas kemuliannya dan kedudukannya , dan dirampas apa apa yang Allah berikan kepadanya dengan nash Al Kitab dan Nash As sunnah, maka makna hal itu bahwa sesungguhnya umat ini semuanya telah kehilangan kemanusiaannya, dan kehilangan makna keberadaannya sebagai umat yang dibebani oleh Allah kewajban kewajiban dan perkara perkara yang tidak mampu menegakkannya, karena dia telah dilucuti dari kemanusiaannya ketika  dirampas hak hak yang merupakan miliknya sesuai dengan pokok syara’”

         Syaikh Ubaid bin Abdullah bin Sulaiman Al Jabiry berkata: “Salman Al Audah disini berusaha membawa makna hadist ‘Walaupun ia memukul punggungmu dan merampas harta bendamu’ kepada kondsi personal, dan bahwa hadist ini tidaklah berlaku atas kedzoliman yang umum, dan dia telah dikuti (di dalam tahrifnya ini) oleh MURIDNYA DR MUHAMMAD AL ARIFI (kaset ar raddu ‘ala salman al audah wa Tilmidzihi Muhammad Al arifi fi tahrifihi lil hadist “wa in ukhidza malukui wa dzuriba zhahruka” https://www.box.com/s/8fe39f2903daf1f476d7)

        Dr muhammad Al Arifi mengkuti jejak GURUNYA Salman Al Audah di dalam menyelewengkan makna hadist di atas sebagaimana dia sampaikan di sebuah acara distasiun televisi  (lihat http://www.islamancienttube.com/video/1001/2)

          Di dalam kesempatan lain, Al Arifi menyatakan bahwa dia dalam hal ini mengikuti Al Imam An nawawi dan Al Hafidzh ibnu Hajar,padahal kedua imam tersebut tidaklah mentahrif makna hadist tersebut bahkan membawa kepada lahirnya sebagaimana dalam 2 nukilan di atas.

PARA ULAMA MEMBANTAH AL ARIFI

Telah datang batahan dari para ulama Sunnah atas Penyelewengan DR. MUHAMMAD AL ARIFI terhadap hadist di atas , daintara mereka adalah:
1.      Mufti ‘am kerajaan saudi, Samahatusy Syaikh abdul Aziz Alu Syaikh sebagaimana bisa dilihat di dalam link berkut: http://m.youtube.com/watch?v=1hi-HaRP2QI
2.      Syaikh alamah Prof Dr. Shalih Al fauzan di dalam makalah beliau berjudul Tanbihun ala khatha’in fi syarhi hadist “wa In ukhidza maluka wa dhuriba zhahruka” di website resmi beliau berkata : “sungguh telah datang dalam Shahih Muslim di dalam Hadist Hudzaifah bin Yaman di dalam masalah fitnah dan apa yang wajib dilakukan seorang jika melihat fitnah khususnya apa yang terjadi di sebagan penguasa kaum muslmin berupa kecurangan dan kedzoliman hingga Nabi bersanda di dalam hadist ini ‘Dengar dan taatlah pada pemimpin, sekalipun ia memukul punggungmu dan mengambil hartamu’ ini membingungkan sebagian ikhwan hingga sebagian mereka mengatakan tentang hadist ini bahwa dia ditunjukkan untuk person di dalam suatu lingkup Arab yang tidak ada ketaatan dan enggan bergabung yang terkadang hal itu membawa mereka untuk menolak ketaatan dalam hal yang ma’ruf ata membawa kepada penyempalan atau menuju pada peperangan, jadilah mereka menawilkan nya kepada selain ,maknanya untuk menyelewengkannya dari lahrnya. Ketika mereka dibantah dalam hal itu maka mereka menyandarkan pada hal itu kepada Al imam An Nawawi. Ketika dirujuk Syarah Al Imam An Nawawi atas shahih muslim atas hadist ini kami mendapati beliau berkata di dalam syarah hadist Hudzaifah tatkala dia berkata kepada Rasullah ‘“Apa yang harus aku lakukan ya Rasulullah, jika aku mendapati keadaan yang demikian?” beliau menjawab“Dengar dan taatlah pada pemimpin, sekalipun ia memukul punggungmu dan mengambil hartamu”. AL Imam An nawawi berkata,’ Walaupun ia memukul punggungmu secara dzalim, dan mengambil harta bendamu dengan cara yang tidak benar, dengan bina majhul pada kedua tempat tadi, dan keduanya merupakan syarat dan jawabannya adalah ‘ dengar dan patuhilah’ didalam selani kemaksiatan-selesai-. Ini merupakan nash syarah An nawawi atas hadist ini dimana beliau membawa pada lahirnya dan madlul-nya dan tidak menawilkannya kepada apa yang dikatakan saudara saudara tersebut. (Tanbihun ala khatha’in fi syarhi hadist “wa In ukhidza maluka wa dhuriba zhahruka”, www.alfawzan.af.org.sa)


3.      Syaikh alamah Ubaid bin Abdullah bin Sulaiman Al Jabiry di dalam ceramah beliau yang berjudul (kaset ar raddu ‘ala salman al audah wa Tilmidzihi Muhammad Al arifi fi tahrifihi lil hadist “wa in ukhidza malukui wa dzuriba zhahruka” https://www.box.com/s/8fe39f29033daf1f476d7)


4.      Syaikh Al Allamah Dr. Muhammad bin Hadi Al Madkhali, beliau berkata:”orang ini (DR. MUHAMMAD AL ARIFI) PENDUSTA atas nama ALLAH dan Rasul-Nya, JAHIL (BODOH), pengekor hawa nafsu; tidak perlu di gubris, karena sesungguhnya hadist hadist yang datang dari Rasullah sepakat semuanya tentang wajibnya mendengar dan taat kepada pemimpin kaum muslimin walaupun mereka curang dan zalim; ini adalah perkataan ahlul ilmi wal ‘irfan terhadap sunnah rasullah, rasullah telah memerintah kita agar mendengar dan taat kepada mereka(http://www.box.com/...9236bf2bee0abe8


5.      Syakh Dr. Abdul Aziz bin Rayyis ar Rayyis beliau berkata: “termasuk kedustaan yang paling besar jika dtimpakan atas agama dan tabligh dari Rabbil’alamin, dan pendusta langsung atas Allah dan pernyataan bahwa para ulama menetapkannya padahal kenyataannya tidak demikian. Termasuk hal ini (ialah) kedustaan Dr. MUHAMMAD AL ARIFI-semoga Allah mengembalikannya kepada petunjuk- atas Rasullah di dalam penafsiran hadist  dengan tafsiran yang tidak adayang mendahuluinya kecuali GURUNYA yang dia berusaha MENiRUNYA dan MENAPAKI JEJAKNYA, yaitu seseorang yang BERMUKA DUA yang parah DR. SALMAN AL AUDAH(Haqiqah Murrah Kadzbatun fd dn Ld Duktur Muhammad Al arifi http://islamancient.com)


AL ARIFI MELEMAHKAN HADIST INI

Syaikh Hussam bin Abdullah Al Husain berkata di dalam makalahnya yang berjudul “waafatun Mukhtasharatun ma’a tafsir AD duktur Al Arifi li Haditsi “tasma’u wa tuthi’u ll amiriwa in dharaba zhahraka wa akhdza malaka”: dan sesusah saya menulis huruf huruf ini maka aku membaca di dalam blog Dr. Al Arifi di twitter sebuah kicauan yang dia berkata di dalamnya ( “wa in jalada zakhraka wa akhdza malak’ tambahan yang lemah… dan  kalaupun shahih maknanya adalah: jika seorang khalifah yang adil dan menguasai sesorang person maka hendaknya dia bersabar untuk menghindarkan fitnah (di ucapkan Ibnu Hajar dan an nawawi)

Demikian Dr Muhammad Al Arifi bersikukuh kepada tahrifnya terhadap hadist dan menambahnya dengan upaya melemahkan hadist serta menambah kedustaan lain dengan menyandarkan tahrif pada dua orang ulama sunnah

Sebagamana dilihat bahwa hadist dengan tambahan lafadzh diatas diriwayatkan oleh imam muslim d dalam shahihnya yang umat ini telah mengakuike shahihanny. Memang benar, ada sebagian ulama yang melemahkan tambahan ini namun baik yang melemahkan atau yang menguatkan mentahrif hadst ini dan membolehkan khuruj atas pemimpin yang dzalim

An nawawi berkata d dalam syarahnya  shahih muslim 6/321: “ad daruqutni berkata,’ini meurutku mursal karena Abu sallam tdak mendengar dari Hudzaifah dan sebagamana yang dikatakan Daruqutni, tetapi matannya adalah shahh Mutshil dengan jalan yang pertama”
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Bany berkata :” Tambahan ini telah di ta’lil dengan inqtha (terputus sanadnya) dan ian di-maushulkan oleh At thabrany di dalam Al mu’jam Al Ausath (1/162/2/3039)dari jalan Umar Bin Abdul Rasyid Al yamami dari yahya bin Abi Katsir dari Zaid bin salam dari bapaknya darii kakeknya dari Hudzaifah (silsilah As Shahihah6/541)
Syakh badr bin Ali at Thami Al Utaiby berkata:”Mamthur abu salman tidak menjumpai Hudzaifah ini adalah terputus, dan dari Daruqutni men ta’lil-nya dan mengoreksinya atas Imam Muslim. Akan tetapi hal itu d jawab dengan beberapa jawaban:
1.      Imam Muslim membawakannya sebaga penguat riwayat yang dia bawakan
2.      Bahwa yang seperti ini dibawa kepada yang bersambung jika shahih dari jalan yang lain, dan sanad sampai Mamthur adalah Shahih

3.      Lafal ini telah datang dalam riwayat Subai bin Khalid Al Yasykuri dari Hudzaifah secara maushul d dalam riwayat ahmad, aBu Dawud AthThayalisi dan yang lainnya.
4.      Cukuplah mam Muslim membawakanya dalam Shahihnya
5.      Bahwa mam Ahmad dan yang lannya berhujjah dengan lafadz ini dari hadist, maka ini menunjukkan bahwa mereka telah memandang keshahihanya (washiyyati lil manhaji ahlus sunnah fi Nashihatis Sulthan hlm 14)

IJMA PARA ULAMA ATAS WAJIBNYA TAAT KEPADA PEMIMPIN YANG BAIK DAN BURUK

Al Hafidz ibnu hajar berkata: “dahulu, mereka berkata bahwa memandang pedang , yaitu memandang khuruj dengan pedang atas para pemimpin yang lancung. Akan tetapi, telah tetap ijma’ atas meninggalkan hal itu karena apa yang mereka pandang kepada yang lebih sangat darnya, d dalam peristiwa Hurrah, perstwa &bnul Asy’ats dan selan keduanya tterdapat pelajaran bagi yang ma merenungi (tahdzibut tahdzib 2/288)
Al Imam An nawawi menukil perkataan Qadhi yadh yang berkata:” dan dikatakan bahwa khilaf ini pada awalnya, kemudian terjadi jma’ atas larangan khuruj atas mereka”(syarah Muslim 6/314)

PENUTUP

Memberontak kepada Pemimpin yang baik atau yang dzolim adalah perkara yang lebih besar kerusakannya
(di sarikan dari majalah Al Furqon 136 edisi 11 th ke 12, oleh Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah)




20 komentar:

Abu abdirrahman said...

jadi apakah kita akan ikut mencaci beliau dengan kesalahan ini, dibandingkan kebaikan2 yg telah beliau lakukan.
mengapa seakan-aka beliau adalah orang yg fasik yang harus dijauhi layaknya orang syiah dan yang lainnya. mengapa kita seakan-akan punya pabrik "salaf ", yang semudahnya mengeluarkan seseorang dari golongan tersebut hanya dengan satu kesalahan yang masih banyak kemungkinan-kemungkinan mengapa hal itu ada pada beliau.
mengapa artikel ini seakan-akan menggiring pembaca untuk membenci sesama muslim yang masih jelas keislamannya, bahkan seorang Dai.
kami sangat malu dengan isi artikel ini, karena sangat mungkin kekurangan kami masih sangat banyak dibandingkan "kekeliruan" yang beliu jatuh kedalamnya. wallahul Musta'an.
bukannya kami ingin membelah beliau, tapi kami memandang perlu untuk dimuroja'ah artikel seperti ini.

choyrul said...

ALLOH SATU SATUNYA YANG MAHA BENAR. al arifi ad benarnya ada salah itulah manusia, pandangan saya pemimpin kafir disuriah harus diperangi asal umat islam harus bersatu agar kuat dan jangan saling menyalahkan akibatnya islam lemah. permasalahannya orang kafir disuriah bukan memukul ato merampas harta tapi mereka membunuh, melaknat para sohabat nabi, berani didepan umum mengatakan akan melawan Alloh, menahan wanita belasan tahun dan memperkosa terus bergilir tiap hari, hai umat islam mereka umat islam disuriah saudara kita bagaimana perasaan kita dan kapan kita akan menolong mereka, jika kita hanya saling menyalahkan dan dibeberkan apa untungnya, mereka saudara kita disuriah sudah lelah menunggu kita, COBA BANDINGKAN KERUGIANNYA
1. APA BILA KITA DIAM, seluruh rakyat suriah akan menjadi kafir karna tidak kuat dengan siksaan dan mengangap bahwa umat islam di seluruh dunia sudah tidak menganggap mereka saudara.
2. APABILA KITA UMAT ISLAM BERSATU MEMBANTU SURIAH. jika seluruh rakyak suriah mendengarnya mereka akan bangga dan bersabar dengan cobaannya. karna mereka tau kemenangan dari Alloh akan datang.

jika suriah sudah diduduki orang kafir maka tujuan selanjutnya arab saudi, apakah kita hanya diam, ingatlah kemenangan Islam melawan orang kafir pada jaman nabi dan para sahabat adalah doa, jihad dan sabar (ibarat orang sakit kita harus berdoa, berobat dan sabar)

maaf jika tulisanku ada yang salah ato menyinggung, sungguh aku tulis begini karna Q takut hari akhir akan tanggung jawabku sebagai seorang muslim yang telah melihat sadaraku teraniaya

choyrul said...

ALLOH SATU SATUNYA YANG MAHA BENAR. al arifi ad benarnya ada salah itulah manusia, pandangan saya pemimpin kafir disuriah harus diperangi asal umat islam harus bersatu agar kuat dan jangan saling menyalahkan akibatnya islam lemah. permasalahannya orang kafir disuriah bukan memukul ato merampas harta tapi mereka membunuh, melaknat para sohabat nabi, berani didepan umum mengatakan akan melawan Alloh, menahan wanita belasan tahun dan memperkosa terus bergilir tiap hari, hai umat islam mereka umat islam disuriah saudara kita bagaimana perasaan kita dan kapan kita akan menolong mereka, jika kita hanya saling menyalahkan dan dibeberkan apa untungnya, mereka saudara kita disuriah sudah lelah menunggu kita, COBA BANDINGKAN KERUGIANNYA
1. APA BILA KITA DIAM, seluruh rakyat suriah akan menjadi kafir karna tidak kuat dengan siksaan dan mengangap bahwa umat islam di seluruh dunia sudah tidak menganggap mereka saudara.
2. APABILA KITA UMAT ISLAM BERSATU MEMBANTU SURIAH. jika seluruh rakyak suriah mendengarnya mereka akan bangga dan bersabar dengan cobaannya. karna mereka tau kemenangan dari Alloh akan datang.

jika suriah sudah diduduki orang kafir maka tujuan selanjutnya arab saudi, apakah kita hanya diam, ingatlah kemenangan Islam orang kafir jaman nabi dan para sahabat adalah doa, jihad dan sabar (ibarat orang sakit kita harus berdoa, berobat dan sabar)

maaf jika tulisanku ada yang salah ato menyinggung, sungguh aku tulis begini karna Q takut hari akhir akan tanggung jawabku sebagai seorang muslim yang telah melihat sadaraku teraniaya

choyrul said...

ALLOH SATU SATUNYA YANG MAHA BENAR. al arifi ad benarnya ada salah itulah manusia, pandangan saya pemimpin kafir disuriah harus diperangi asal umat islam harus bersatu agar kuat dan jangan saling menyalahkan akibatnya islam lemah. permasalahannya orang kafir disuriah bukan memukul ato merampas harta tapi mereka membunuh, melaknat para sohabat nabi, berani didepan umum mengatakan akan melawan Alloh, menahan wanita belasan tahun dan memperkosa terus bergilir tiap hari, hai umat islam mereka umat islam disuriah saudara kita bagaimana perasaan kita dan kapan kita akan menolong mereka, jika kita hanya saling menyalahkan dan dibeberkan apa untungnya, mereka saudara kita disuriah sudah lelah menunggu kita, COBA BANDINGKAN KERUGIANNYA
1. APA BILA KITA DIAM, seluruh rakyat suriah akan menjadi kafir karna tidak kuat dengan siksaan dan mengangap bahwa umat islam di seluruh dunia sudah tidak menganggap mereka saudara.
2. APABILA KITA UMAT ISLAM BERSATU MEMBANTU SURIAH. jika seluruh rakyak suriah mendengarnya mereka akan bangga dan bersabar dengan cobaannya. karna mereka tau kemenangan dari Alloh akan datang.

jika suriah sudah diduduki orang kafir maka tujuan selanjutnya arab saudi, apakah kita hanya diam, ingatlah kemenangan Islam orang kafir jaman nabi dan para sahabat adalah doa, jihad dan sabar (ibarat orang sakit kita harus berdoa, berobat dan sabar)

maaf jika tulisanku ada yang salah ato menyinggung, sungguh aku tulis begini karna Q takut hari akhir akan tanggung jawabku sebagai seorang muslim yang telah melihat sadaraku teraniaya

choyrul said...

ALLOH SATU SATUNYA YANG MAHA BENAR. al arifi ad benarnya ada salah itulah manusia, pandangan saya pemimpin kafir disuriah harus diperangi asal umat islam harus bersatu agar kuat dan jangan saling menyalahkan akibatnya islam lemah. permasalahannya orang kafir disuriah bukan memukul ato merampas harta tapi mereka membunuh, melaknat para sohabat nabi, berani didepan umum mengatakan akan melawan Alloh, menahan wanita belasan tahun dan memperkosa terus bergilir tiap hari, hai umat islam mereka umat islam disuriah saudara kita bagaimana perasaan kita dan kapan kita akan menolong mereka, jika kita hanya saling menyalahkan dan dibeberkan apa untungnya, mereka saudara kita disuriah sudah lelah menunggu kita, COBA BANDINGKAN KERUGIANNYA
1. APA BILA KITA DIAM, seluruh rakyat suriah akan menjadi kafir karna tidak kuat dengan siksaan dan mengangap bahwa umat islam di seluruh dunia sudah tidak menganggap mereka saudara.
2. APABILA KITA UMAT ISLAM BERSATU MEMBANTU SURIAH. jika seluruh rakyak suriah mendengarnya mereka akan bangga dan bersabar dengan cobaannya. karna mereka tau kemenangan dari Alloh akan datang.

jika suriah sudah diduduki orang kafir maka tujuan selanjutnya arab saudi, apakah kita hanya diam, ingatlah kemenangan Islam orang kafir jaman nabi dan para sahabat adalah doa, jihad dan sabar (ibarat orang sakit kita harus berdoa, berobat dan sabar)

maaf jika tulisanku ada yang salah ato menyinggung, sungguh aku tulis begini karna Q takut hari akhir akan tanggung jawabku sebagai seorang muslim yang telah melihat sadaraku teraniaya

choyrul said...

ALLOH SATU SATUNYA YANG MAHA BENAR. al arifi ad benarnya ada salah itulah manusia, pandangan saya pemimpin kafir disuriah harus diperangi asal umat islam harus bersatu agar kuat dan jangan saling menyalahkan akibatnya islam lemah. permasalahannya orang kafir disuriah bukan memukul ato merampas harta tapi mereka membunuh, melaknat para sohabat nabi, berani didepan umum mengatakan akan melawan Alloh, menahan wanita belasan tahun dan memperkosa terus bergilir tiap hari, hai umat islam mereka umat islam disuriah saudara kita bagaimana perasaan kita dan kapan kita akan menolong mereka, jika kita hanya saling menyalahkan dan dibeberkan apa untungnya, mereka saudara kita disuriah sudah lelah menunggu kita, COBA BANDINGKAN KERUGIANNYA
1. APA BILA KITA DIAM, seluruh rakyat suriah akan menjadi kafir karna tidak kuat dengan siksaan dan mengangap bahwa umat islam di seluruh dunia sudah tidak menganggap mereka saudara.
2. APABILA KITA UMAT ISLAM BERSATU MEMBANTU SURIAH. jika seluruh rakyak suriah mendengarnya mereka akan bangga dan bersabar dengan cobaannya. karna mereka tau kemenangan dari Alloh akan datang.

jika suriah sudah diduduki orang kafir maka tujuan selanjutnya arab saudi, apakah kita hanya diam, ingatlah kemenangan Islam orang kafir jaman nabi dan para sahabat adalah doa, jihad dan sabar (ibarat orang sakit kita harus berdoa, berobat dan sabar)

maaf jika tulisanku ada yang salah ato menyinggung, sungguh aku tulis begini karna Q takut hari akhir akan tanggung jawabku sebagai seorang muslim yang telah melihat sadaraku teraniaya

choyrul said...

maha benar Alloh, insan manusia pasti ada salah kita harus maklum dan jangan dibeberkan, carilah jalan yang lebih baik

choyrul said...

maha benar Alloh, insan manusia pasti ada salah kita harus maklum dan jangan dibeberkan, carilah jalan yang lebih baik

Abu Luqman said...

@abu abdirahman bedakan mana mencaci dan mana memperingatkan umat, Tokoh semisal Osama bin Laden atau hasan al bana juga memiliki kebaikan kebaikan, namunUlama akan memberikan peringatan terhadap penyimpangan2 nya
gini aja antum kalau mau ada muraja'ah jangan ke saya karena saya bukan yang menulis artikel saya hanya menyalin, nah apabila anda tak terima dengan artikel ini silakan antum bilang dan dialog dengan ustadz Arif fathul ulum dari ma'had Al furqon gresik.
kalau memang antum berani silakan dialog ilmiyyah dengannya.
ana yakin ustadz sekelas ustadz Arif fathul ulum bukanlah ustadz yang bodoh sehingga menyebarkannya lewat majalah Al furqon dan itu disebar luaskan ke seluruh indonesia..

Abu Luqman said...

salah satu kewajiban seorang muslim adalah memberikan nasehat kepada orang yang salah bukan malah diam

Anonymous said...

umat Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam- di atas kesesatan, dan tangan Allah bersama jamaah, dan barang siapa yang menyempal maka dia menyempa menuju neraka. - Tirmidzi, Bab Maa Ja'a fi Luzumil Jamaah, No. 2167

"Dan berpegang-teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Alloh dengan jama'ah, dan janganlah kamu sekalian firqoh". (QS. Ali 'Imron,No. Surat: 3, Ayat: 103).

"Dan berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu berfirqah-firqah (bergolong-golongan),dan ingatlah akan ni’mat Allah atas kamu tatkala kamu dahulu bermusuh-musuhan maka Allah jinakkan antara hati-hati kamu, maka dengan ni’mat itu kamu menjadi bersaudara, padahal kamu dahulunya telah berada di tepi jurang api Neraka, tetapi Dia (Allah) menyelamatkan kamu dari padanya; begitulah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS.Ali ‘Imran:103 )

“Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rosululloh dalam ‘Amrin Jaami’in’ (sambung berjama’ah; sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan), mereka tidak meninggalkan (Rosululloh) sebelum meminta idzin kepadanya. Sesungguhnya orang-orangy ang meminta idzin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, maka apabila mereka meminta idzin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah idzin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nuur, No. Surat: 24, Ayat: 62).

Kamu sekalian menetapilah pada Al-Jama’ah, dan takutlah kamu sekalian pada Al-Firqoh, maka sesungguhnya syetan bersama satu orang dan syetan itu akan menjauh dari dua orang, dan barangsiapa yang ingin berada di tengah-tengah surga maka hendaklah dia menetapi Al-Jama'ah". (HR. Tirmidzi juz 3 hal 207).

“Dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan, mereka semua masuk di dalam neraka, kecuali hanya satu golongan (yang tidak masuk neraka). Mereka (sahabat) berkata: “Dan siapakah yang satu golongan itu, ya Rosulalloh? Rosululloh, bersabda: “yaitu (golongan) yang mengerjakan apa yang saya kerjakan dan yang dikerjakan oleh sahabat-sahabat saya”. (HR. Tirmidzi, No. Hadits: 2565).

“Sesungguhnya orang-orang yang berbai’at kepadamu sesungguhnya mereka berbaiat kepada Allah, tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang mengingkari bai’atnya niscaya akibat pelanggarannya akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa yang menepati bai’atnya, maka Allah akan memberikan pahala yang besar.” (Q.S. Al Fath : 10).

“Kami berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengar dan taat, baik dalam keadaan semangat ataupun lemah (berat), dan untuk tidak menentang perintah kepada ahlinya serta untuk menegakkan (kebenaran) atau berkata dengan benar di manapun kami berada, tidak takut dalam membela agama Allah dari celaan orang-orang yang mencelanya.” (HR. Al Bukhari dari Ubadah bin Shamit, Shahih Al-Bukhari dalam Kitabul Ahkam: IX/96, Muslim, Shahih Muslim: II/132, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah II/202, An-Nasai, Sunan An-Nasai VII/137-138. Lafadz Al-Bukhari)

“Apabila dibai’at dua khalifah (dalam satu masa), maka bunuhlah yang lain dari keduanya. (yaitu yang terakhir).” (HR. Muslim dari Abi Sa’id Al Khudri, Shahih Muslim dalam Kitabul Imaroh: II/137)

Anonymous said...

“Barangsiapa melepas tangan dari taat akan bertemu dengan Allah pada hari kiyamat dengan tidak punya alasan. Dan barangsiapa mati sedang tidak ada ikatan bai’at pada lehernya maka ia mati seperti matinya orang jahiliyah.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Umar, Shahih Muslim dalam Kitabul Imaroh : II/136)

Yang dimaksud “seperti mati Jahiliyah” adalah kematian dalam kesesatan, perpecahan dan tidak mempunyai imam yang dibaiat dan ditaati. (Hamisy Shahih Muslim II/136)

“Dan barangsiapa membai’at imam dengan berjabat tangan dan kesungguhan hati, maka haruslah ia mentaatinya semampunya. Maka jika datang orang lain akan merebutnya, maka pukullah leher orang tersebut.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash, Shahih Muslim dalam Kitabul Imaroh: II/132, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah II/467, An-Nasai, Sunan An-Nasai VII/153-154. Lafadz Muslim)

“Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, bersabda: “Menetapilah kamu (Hudaifah bin Yaman) pada jamaah muslimin dan imam mereka (artinya: carilah Islam yang berbentuk jama'ah dan yang mempunyai imam sebagai pemimpinya), aku (Hudaifah bin Yaman), berkata: “(Bagaimana) jika tidak ada jama’ah dan imam mereka? Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, bersabda: “Uzlah-lah (Pisahilah) segala bentuk firqoh-firqoh (ada 72 firqoh Islam), sekalipun kamu hanya makan akar / umbi pohon sehingga maut menjemput kamu sementara kamu atas keadaan demikian”. (HR. Bukhori, Kitabul Fitan).

“...maka wajib atas kamu berjama’ah, karena sesungguhnya serigala itu makan kambing yang sendirian.” (HR.Abu Dawud dari Abi Darda, Sunan Abi Daud dalam Kitabus Shalah: I/150 No.547)

"Jama’ah itu rahmat dan firqoh itu adzab.” (HR.Ahmad dari Nu’man bin Basyir, Musnad Ahmad:IV/278, Silsilah Ahaditsush Shohihah No.667)

“Dia (Allah) telah mensyari’atkan bagi kamu tentang Ad-Dien, apa yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami (Allah) wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: “Tegakkanlah Ad-Dien dan JANGANLAH kamu ber PECAH-BELAH di tentangnya.” Berat bagi musyrikin menerima apa yang engkau serukan kepada mereka itu. Allah menarik kepada Ad-Dien itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petun juk kepada (Ad-Dien)-Nya orang yang kembali kepada-Nya.” (QS.Asy-Syura:13)

“Barangsiapa yang taat kepadaku, maka sungguh ia taat kepada Allah dan barangsiapa yang memaksiati aku maka sungguh ia telah memaksiati Allah. Barangsiapa yang mentaati amirku maka sungguh ia telah mentaati aku dan barangsiapa yang memaksiati amirku maka sungguh ia telah memaksiati Aku.” (HR.Al-Bukhari dari Abi Hurairah, Shahih Al-Bukhari dalam Kitabul Ahkam: IX/77. Dalam Riwayat Ibnu Majah)

“Dan barangsiapa yang mentaati imam maka sungguh ia telah mentaatiku dan barang siapa yang memaksiati imam ku maka sungguh ia telah memaksiatiku.” (HR. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah dalam bab Tha’atul Imam : II/201)

“Sekalipun kamu dipimpin oleh seorang budak Habsyi yang rumpung hidungnya, wajib kamu mendengar dan mentaatinya selama ia memimpin kamu dengan Kitabullah.” (HR.Ibnu Majah dari Ummul Hushain dalam bab Tha’atul Imam: II/201, Muslim, Shahih Muslim: II/130, At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi: IV/181 No.1706. Lafadz Ibnu Majah

“Tiga macam orang yang Allah tidak akan berkata kata kepada mereka pada hari kiyamat dan tidak akan membersihkan (memaafkan), dan bahkan bagi mereka siksa yang pedih. Mereka itu adalah: 1) Orang yang mempunyai kelebihan air di tengah jalan tetapi menolak permintaan orang yang dalam keadaan bepergian, 2) Orang yang berbai’at pada seorang imam, tetapi tidaklah ia

Anonymous said...

berbai’at kecuali karena dunia, jika diberi menepati bai’atnya dan jika tidak diberi (ditolak tuntutannya) ia tidak menepatinya, 3) Orang yang menjual barang pada orang lain setelah ‘Ashar dan bersumpah dengan nama Allah, sungguh akan diberikan dengan ketentuan begini dan begini, lalu ia membenarkannya dan hendak mengambilnya, tetapi ia tidak memberikannya.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah, Shahih Al-Bukhari dalam Kitabul Ahkam: IX/99, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah II/204, At-Tirmidzi, Sunan At Tirmidzi IV/128 No: 1595. Lafadz Al-Bukhari)

“Dahulu bani Israil selalu dipimpin oleh para Nabi, setiap meninggal seorang Nabi diganti oleh Nabi lainnya, sesungguhnya setelahku ini tidak ada Nabi dan akan ada setelahku beberapa khalifah bahkan akan bertambah banyak, sahabat bertanya: ”Apa yang tuan perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab: ”Tepatilah bai’atmu pada yang pertama (artinya baiat yang pertama dilakukan pada saat itu), maka untuk yang pertama dan berikan pada mereka haknya. Maka sesungguhnya Allah akan menanya mereka tentang hal apa yang diamanatkan dalam kepemimpinannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Muslim dalam Kitabul Imaroh: II/132, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah II/204. Lafadz Muslim)

“Dari ‘Urwah bahwasanya ‘Aisyah menceritakan kepadanya tentang bai’atnya kaum wanita, ia berkata: “Tidaklah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menyentuh seorang wanita (yang bukan muhrimnya) dengan tangannya sedikitpun, apabila kaum wanita telah mengikrarkan bai’atnya, beliau menerimanya, lalu bersabda: “Pergilah sungguh saya telah menerima bai’atmu.” (HR. Muslim, Shahih Muslim dalam Kitabul Imaroh: II/142. Al Bukhari, Shahih Al-Bukhari IX/99, Abu Dawud, Sunan Abu dawud II/133. Lafadz Muslim)

“Sesungguhnya aku tidak berjabatan tangan dengan wanita (yang bukan muhrimnya), maka sesungguhnya ucapanku (dalam menerima bai’at) bagi seratus wanita itu sebagaimana ucapanku bagi seorang wanita.” (HR. An-Nasai dari Umayyah binti Rufaiqah, Sunan An-Nasai dalam Kitabul bai’ah: VII/149, At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi IV/149 No: 1597)

“Saya mengulurkan tangan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam supaya beliau membai’atku, pada waktu itu saya masih kecil, maka beliau tidak membai’atku.” (HR. An-Nasai, Sunan An-Nasai dalam Kitabul Bai’ah: VII/150)

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)". [Al-fath : 18]

“Barangsiapa mati dan dilehernya tidak ada baiat, maka sungguh dia telah melepas ikatan Islam dari lehernya"[Dikeluarkan oleh Muslim dari Ibnu Umar]

“Barangsiapa berjanji setia kepada seorang imam dan menyerahkan tangan dan yang disukai hatinya, maka hendaknya dia menaati imam tersebut menurut kemampuannya. Maka jika datang orang lain untuk menentangnya, maka putuslah ikatan yang lain tersebut" [Dikeluarkan oleh Muslim dan Abu Dawud dari Abdillah bin Amr bin Ash]

“Dan barangsiapa yang berbaiat kepada seorang imam lalu bersalaman dengannya (sebagai tanda baiat) dan menyerahkan ketundukannya, maka hendaklah dia mematuhi imam itu semampunya. Jika ada yang lain datang untuk mengganggu imamnya (memberontak), penggallah leher yang datang tersebut.” (HR. Muslim no. 1844)

Dari sahabat nabi Abu hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ia bersabda: “Barang siapa yang mentaati aku sungguh ia telah mentaati Allah, dan barang siapa yang durhaka padaku sungguh ia telah mendurhakai Allah, barang siapa yang taat pada pemimpin sungguh ia telah taat padaku, dan barang siapa yang durhaka pada pemimpin sungguh ia telah durhaka padaku”. (HR.Muslim 3/1466 No.1835)

Anonymous said...

Dari Abdullah bin mas’ud ia berkata telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Akan datang sesudahku kezhaliman, dan tindakan-tindakan yang kalian ingkari.” Lalu para sahabat bertanya, “ya Rasulullah apa nasehat engkau bagi orang yang mendapat keadaan yang demikian, lalu Beliau bersabda: “Tunaikan kewajiban yang dibebankan kepada kalian, dan minta kepada Allah sesuatu yang untuk kalian”.(HR.Muslim 3/1472 No.1843)

Huzaifah bin al Yaman bertutur; aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ya Rasulullah!, dulu kami berada dalam kejelekan (masa jahiliyah) lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam) yang kami sekarang berda dalamnya, apakah dibelakang kebaikan ini akan ada lagi kejelekan?“, Beliau menjawab; “Ya”.lalu Huzaifah berkata lagi: “Apaka setelah itu akan ada lagi kebaikan?” Beliau menjawab, “Ya”, Huzaifah berkata lagi, “Apakah setelah itu akan ada lagi kejelekan?” Beliau menjawab,“Ya”. Huzaifah berkata lagi, “Bagaimana hal demikian?”, Beliau menjawab, “Akan datang pada suatu masa setelah aku para pemimpin yang tidak berpedoman kepada petunjukku, dan tidak melaksanakan sunnahku, dan akan berdiri di tengah-tengah mereka para lelaki yang hati mereka adalah hati syaitan yang terdapat dalam tubuh manusia.” Lalu Huzaifah berkata, “Apa yang harus aku lakukan ya Rasulullah, jika aku mendapati keadaan yang demikian?” “Dengar dan taatlah pada pemimpin, sekalipun ia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, maka tetaplah dengarkan dan patuhi perintahnya”.(HR.Muslim 3/1476 No.1847)

Dari Ibnu abbas ia berkata: telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang melihat sesuatu yang dibencinya dari pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar, sesungguhnya siapa yang meninggalkan jamaah barang satu jengkal saja lalu ia mati maka kematiannya berada dalam kejahiliyaan”.(HR.Muslim 3/1477 No.1849)

“Maka sesungguhnya saja, barangsiapa yang keluar dari Al-Jama’ah kira-kira satu jengkal, maka sungguh tali Islamnya telah lepas dari lehernya kecuali jika ia kembali lagi”. (HR. Abu Daud).

“Maka sesungguhnya saja, barangsiapa yang memisahi Al- Jama’ah satu jengkal saja, lalu ia mati, maka ia mati dengan kematian jahiliyah”. (HR. Bukhori).

“Barangsiapa yang beramal dalam Jama’ah, lalu benar, maka Alloh menerimanya, dan jika salah, Alloh mengampuninya. Dan barangsiapa yang beramal mencari yang Firqoh, lalu benar, maka Alloh tidak akan menerimanya, dan jika salah, maka hendaklah ia bertempat duduk pada tempat duduknya dari api (mak: di neraka)”. (HR. Thobrooni).

“Dan tangan (pertolongan) Alloh atas Al-Jama’ah, dan barangsiapa yang membelot, maka ia membelot ke neraka”. (HR. Tirmidzi).

Anonymous said...

bagaimana jika pemimpinnya adalah orang kafir, apakah kita wajib taat atau dikudeta? tolong jwaban & dalilnya

Abu Luqman said...

http://kaahil.wordpress.com/tag/menjadikan-orang-kafir-sebagai-pemimpin/

Anonymous said...

yang jelas, siapapun dia, pemberontak atau bukan, tidak boleh diperlakukan secara kejam, apalagi terhadap anak-anak, orang-orang tua, dan wanita yang tidak terlibat dalam pemberontakan itu. kekejaman bashar dan pengikutnya terhadap rakyat suriah jelas memperlihatkan siapa yang pantas dibela dan siapa yang pantas dicela. jika peperangan berlangsung antara tentara bashar dengan tentara pemberontak itu mungkin bisa dimaklumi, tapi orang-orang tak bersalah pun dibantai secara keji, maka dapatkah dikatakan bahwa rakyat harus taat pada penguasa? satu hal yang perlu kita ketahui bahwa banyak ulama sekarang yang pro kepada tiran karena mereka takut kehilangan harta dan kedudukan, bahkan ada ulama yang takut kehilangan kepopulerannya, contohnya di indonesia, ada ulama yang yang mengatakan bahwa goyang ngebor bukan pornografi, nah lo?

Anonymous said...

Judul aslinya lebih baik ketimbang judul yang anda berikan.. dan jika tidak dapat mempertanggung jawabkan apa yang anda tampilkan, sebaiknya jangan ditampilkan.. karena sesuatu yang anda tampilkan pastinya telah anda benarkan terlebih dahulu.. akibat dari tersebarnya artikel yang anda tampilkan pun akan anda pertanggung jawabkan.. jadi, sangat aneh jika ada yang mengkritik kemudian anda hanya bisa melemparkan kritikan tersebut kepada orang lain..

Abu Luqman said...

terlepas dari judul asli atau bukan p[ada intinya adalah isi artikel yang berisi peringatan para ulama akan penyimpangan pemahaman dari syaikh muhammad al arifi, artikel ini akan tetap ada sampai ada perkataan ulama tersebut di tarik

Anonymous said...

yg jelas salafi adalah produk yahudi...sudah kelihatan kebenaranya..

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...